Menanam Harapan di Gaung Baru

Klik Untuk Lebih Jelas : Menanam Harapan di Gaung Baru
Klik Untuk Lebih Jelas : Menanam Harapan di Gaung Baru
Klik Untuk Lebih Jelas : Menanam Harapan di Gaung Baru
Klik Untuk Lebih Jelas : Menanam Harapan di Gaung Baru

 

Ketika Perempuan Dayak Kahayan Mengubah Pekarangan Menjadi Sekolah Kehidupan

Sore mulai turun di Kelurahan Gaung Baru, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangkaraya. Di teras sebuah rumah bercat ungu, belasan perempuan duduk melingkar. Sebagian memegang spidol, sebagian lagi memperhatikan lembaran kertas besar yang ditempel di dinding rumah. Tidak ada podium. Tidak ada narasumber yang berdiri paling depan. Tidak ada jarak antara yang mengajar dan yang belajar.

Yang ada hanyalah percakapan. Percakapan tentang kehidupan. Tentang harga sayur yang terus naik. Tentang pekarangan yang masih kosong. Tentang sampah dapur yang menumpuk setiap hari. Tentang anak-anak yang semakin jarang mengenal tanaman pangan. Tentang kekhawatiran menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti.

Di tengah percakapan itu, seorang ibu perlahan menuliskan beberapa kalimat di atas kertas plano. Yang lain menambahkan pendapat. Ada yang mengangguk. Ada yang tertawa. Ada yang sesekali berbeda pendapat.

Tetapi tidak ada yang merasa paling benar. Karena sore itu mereka sedang melakukan sesuatu yang jarang dicatat dalam laporan pembangunan: mereka sedang belajar mendengarkan satu sama lain.

Banyak program pembangunan dimulai dari proposal, anggaran, dan target-target kegiatan. Namun perubahan sosial yang sungguh-sungguh sering kali dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: perjumpaan.

Di Gaung Baru, perjalanan komunitas perempuan Dayak Kahayan tidak dimulai dari bantuan bibit atau pupuk. Ia dimulai dari keberanian untuk duduk bersama dan bertanya: persoalan apa yang sebenarnya kita hadapi, dan masa depan seperti apa yang ingin kita bangun?

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Selama bertahun-tahun, masyarakat pedesaan sering diposisikan sebagai penerima program. Mereka menjadi objek pembangunan. Mereka diminta mengikuti pelatihan, menerima bantuan, atau menjalankan kegiatan yang dirancang dari luar.

Di Gaung Baru, prosesnya dibalik. Masyarakat sendiri yang mengidentifikasi persoalan. Masyarakat sendiri yang menyusun visi. Masyarakat sendiri yang menentukan langkah-langkah yang ingin ditempuh.

Dalam pendekatan People-Led Development, pembangunan tidak dimulai dari proyek, melainkan dari kesadaran masyarakat tentang hidup mereka sendiri. Sebagaimana ditegaskan dalam pendekatan penelitian dan pemberdayaan yang berpusat pada pengalaman hidup komunitas, perubahan yang bertahan lama lahir dari kemampuan masyarakat membaca realitasnya dan bertindak atas realitas itu.

Dari berbagai diskusi yang berlangsung, muncul kesadaran bahwa sebenarnya mereka memiliki banyak sumber daya yang selama ini kurang diperhatikan.

Mereka memiliki tanah pekarangan. Ada limbah organik rumah tangga. Ada juga pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Mereka punya kebiasaan gotong royong. Dan yang terpenting, mereka merawat kemauan untuk berubah.

Kesadaran itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya kelompok perempuan tani Dayak Kahayan di Gaung Baru.

Mereka mulai menyusun visi bersama. Bukan visi yang ditulis konsultan. Bukan pula visi yang lahir dari ruang rapat berpendingin udara. Melainkan visi yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari sebagai ibu, petani, penjaga keluarga, dan anggota komunitas.

Visi tentang pangan yang sehat, lingkungan yang bersih, keluarga yang lebih mandiri dan visi soal kampung yang mampu memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri.

Setelah proses perencanaan, tibalah tahap yang paling penting, yaitu harus mulai bekerja bersama. Maka di bawah pohon-pohon yang menaungi halaman kampung, para perempuan mulai mengumpulkan daun-daun kering, rumput, ranting kecil, dan sisa bahan organik lainnya.

Apa yang selama ini dianggap sampah mulai dipandang dengan cara berbeda. Bahwa tumpukan daun yang biasanya dibakar ternyata dapat menjadi pupuk. Dan sisa dapur yang biasa dibuang ternyata bisa jadi sumber kehidupan baru bagi tanah.

Mereka belajar membuat kompos. Mencacah bahan organik. Menyusun lapisan demi lapisan bahan kompos. Mereka juga mengamati proses pembusukan yang perlahan mengubah limbah menjadi sumber kesuburan.

Tapi tidak berhenti di situ. Di sana mereka juga belajar membuat pupuk cair dan eco-enzyme dari limbah organik rumah tangga.

Di banyak tempat, teknologi sering dipahami sebagai sesuatu yang mahal dan rumit. Tetapi di Gaung Baru, teknologi hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: kemampuan mengubah sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai.

Di situlah sebenarnya letak kekuatan agroekologi. Dimana itu bukan sekadar teknik bertani. Tapi cara berpikir. Cara bagaimana melihat hubungan antara manusia, tanah, air, tumbuhan dan komunitas sebagai satu kesatuan kehidupan.

Yang menarik dari proses ini bukan hanya hasil akhirnya, tapi juga bagaimana hasil itu dicapai. Dan tidak ada satu orang pun yang bekerja sendirian. Mereka datang membawa daun, sisa dapur, tenaga dan cerita.

Gotong royong menjadi energi yang menggerakkan semuanya. Di tengah dunia yang semakin individualistis, pemandangan seperti ini terasa semakin langka. Namun justru di ruang-ruang sederhana seperti inilah modal sosial masyarakat tumbuh dan diperkuat.

Ada kepercayaan dibangun. Solidaritas dipupuk. Kepemimpinan lahir. Dan sebagian besar kepemimpinan itu muncul dari perempuan-perempuan yang sebelumnya tidak pernah menganggap dirinya sebagai pemimpin.

Beberapa bulan kemudian, perubahan mulai terlihat. Pekarangan yang sebelumnya kosong berubah menjadi hijau. Ajir-ajir bambu berdiri tegak menopang tanaman yang merambat. Daun-daun tumbuh lebat. Buah mulai bermunculan. Sayuran segar sudah tersedia tidak jauh dari dapur rumah mereka.

Di salah satu kebun, seorang perempuan berdiri di antara tanaman mentimun yang tumbuh subur. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang sulit disembunyikan.

Mungkin hasil panen itu belum besar. Dan itu mungkin belum mampu mengubah ekonomi keluarga secara drastis. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting yang sedang tumbuh.

Itu adalah kepercayaan diri. Sebuah keyakinan bahwa mereka mampu menghasilkan pangan sendiri. Mereka mampu mengelola tanahnya sendiri. Dan kepercayaan diri bahwa perubahan bukan sesuatu yang harus menunggu datang dari luar. Harus dari dalam diri sendiri.

Dalam banyak diskusi tentang ketahanan pangan, perhatian sering tertuju pada produksi skala besar, teknologi modern atau investasi yang besar.

Padahal ketahanan pangan sesungguhnya sering lahir dari tempat-tempat kecil yang jarang diperhatikan. Antara lain dari halaman rumah. Dari kebun keluarga dan dari tangan para Perempuan serta komunitas yang saling belajar.

Pengalaman Gaung Baru menunjukkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya soal meningkatkan produksi, melainkan memperkuat relasi manusia dengan lingkungan dan komunitasnya.

Di sana perempuan diperlihatkan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan pelaku utama perubahan sosial dan ekologis. Dan agroekologi nampak bukan hanya soal bagaimana menghasilkan pangan, tapi tentang membangun martabat, solidaritas dan kemandirian.

Menjelang senja, suara percakapan di Gaung Baru perlahan mereda. Sebagian perempuan kembali ke rumah masing-masing. Sebagian masih berdiri di dekat kebun sambil memperhatikan tanaman yang mulai berbuah.

Tidak ada perayaan besar dengan panggung penghargaan. Tidak ada sorotan kamera televisi. Tapi di tempat sederhana itu, sesuatu yang penting sedang bertumbuh.

Bukan hanya mentimun, cabai atau sayuran lain. Melainkan harapan. Harapan bahwa masa depan pangan dapat dibangun dari bawah. Harapan bahwa perempuan-perempuan kampung dapat menjadi penggerak perubahan. Harapan bahwa tanah yang dirawat dengan kasih akan terus memberi kehidupan.

Dan seperti tanaman yang tumbuh perlahan di pekarangan mereka, harapan itu kini berakar kuat di Gaung Baru, menunggu waktu untuk terus bertunas, berbunga, dan berbuah bagi generasi yang akan datang.