Dari Penerima Manfaat Menjadi Pemimpin Perubahan

 

Suatu ketika dalam sebuah diskusi bersama petani di pedalaman Kalimantan Tengah, seorang ibu petani mengatakan, “Dulu kami selalu menunggu bantuan. Sekarang kami mulai bertanya, apa yang bisa kami lakukan sendiri?”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi kami di JPIC Kalimantan, kalimat tersebut mencerminkan perubahan besar yang sedang berlangsung di banyak komunitas. Perubahan yang tidak hanya menyangkut teknik bertani, tetapi juga cara pandang terhadap diri sendiri, terhadap pengetahuan, dan terhadap masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan bersama Platform APEX telah menjadi salah satu ruang pembelajaran yang membantu memperkuat perubahan tersebut.

Bagi sebagian orang, agroekologi sering dipahami sebagai cara bertani tanpa bahan kimia. Namun melalui berbagai proses pembelajaran, dialog dan pertukaran pengalaman yang difasilitasi oleh APEX, kami belajar bahwa agroekologi jauh lebih luas daripada sekadar teknik pertanian. Agroekologi adalah cara memandang hubungan antara manusia, tanah, air, benih, budaya, dan kekuasaan. Agroekologi mengajarkan bahwa pangan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari kehidupan yang menentukan martabat sebuah komunitas.

Pelajaran itu menjadi sangat relevan bagi konteks Kalimantan Tengah.

Di banyak wilayah dampingan kami, masyarakat menghadapi tekanan yang semakin besar. Hutan berkurang, lahan berubah fungsi, sungai mengalami pencemaran, dan ruang hidup masyarakat adat semakin menyempit. Di saat yang sama, sistem pangan lokal yang selama ratusan tahun menopang kehidupan masyarakat perlahan mengalami kemunduran. Banyak petani menjadi semakin bergantung pada pupuk, pestisida, dan benih dari luar. Generasi muda meninggalkan desa karena menganggap pertanian tidak lagi menjanjikan masa depan.

Dalam situasi seperti itu, berbagai ruang belajar yang dibangun melalui APEX memberikan harapan sekaligus perspektif baru. Kami bertemu dengan petani, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara Asia yang menghadapi tantangan serupa. Kami mendengar bagaimana komunitas-komunitas di Filipina, India, Nepal, Sri Lanka dan negara lainnya berupaya mempertahankan benih lokal mereka, membangun sistem pangan yang mandiri, serta memperjuangkan hak atas tanah dan sumber daya alam.

Pertemuan-pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang kami hadapi bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Ada pola yang sama di banyak tempat: konsentrasi kekuasaan atas pangan, tekanan terhadap petani kecil, dan ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan. Namun kami juga melihat bahwa di berbagai tempat terdapat gerakan-gerakan kecil yang terus bertahan dan menawarkan alternatif.

Dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau investasi raksasa. Perubahan dapat dimulai dari komunitas yang kembali menyimpan benihnya sendiri. Dari petani yang berani bereksperimen dengan pupuk organik. Dari perempuan yang mulai berbicara dalam pertemuan desa. Dari kaum muda yang memilih kembali mengolah tanah daripada meninggalkannya.

Pengalaman bersama APEX turut memperkuat langkah-langkah tersebut di Kalimantan Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, JPIC bersama komunitas mengembangkan Sekolah Lapang Agroekologi sebagai ruang belajar bersama. Di tempat-tempat seperti Barito Timur dan wilayah lainnya, petani tidak hanya belajar teknik budidaya. Mereka juga belajar menganalisis persoalan yang mereka hadapi, mendokumentasikan pengetahuan lokal, serta merancang solusi berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Kami mulai melihat bagaimana petani tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi menjadi sumber pengetahuan. Mereka saling mengajar. Mereka melakukan percobaan di lahan masing-masing. Mereka membagikan hasil pembelajaran kepada petani lain. Dalam proses itu, kepercayaan diri komunitas tumbuh perlahan.

Hal yang sama terjadi dalam upaya konservasi benih lokal. Inspirasi yang datang dari berbagai pengalaman organisasi anggota APEX mendorong kami untuk memperkuat diskusi mengenai kedaulatan benih dan pengembangan bank benih komunitas. Benih tidak lagi dipandang sebagai barang dagangan semata, melainkan sebagai warisan pengetahuan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Perempuan juga semakin mengambil peran penting dalam proses ini. Di banyak komunitas, perempuan sebenarnya adalah penjaga utama sistem pangan keluarga. Namun suara mereka sering kali tidak terdengar dalam ruang pengambilan keputusan. Melalui berbagai proses pengorganisasian dan pembelajaran, kami melihat semakin banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin kelompok, fasilitator lapangan, maupun penggerak inisiatif agroekologi di tingkat komunitas.

Namun jika ada satu pelajaran yang paling berharga dari perjalanan bersama APEX, maka pelajaran itu adalah tentang People-Led Development atau pembangunan yang dipimpin oleh masyarakat.

Pendekatan ini mengubah cara kami memahami pembangunan itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, pembangunan sering dipahami sebagai sesuatu yang datang dari luar, yakni dari pemerintah, donor, proyek, atau organisasi. Masyarakat ditempatkan sebagai penerima manfaat yang menunggu bantuan dan program. Akibatnya, keberhasilan sering diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan atau berapa banyak kegiatan yang dilakukan.

People-Led Development menawarkan cara pandang yang berbeda. Dalam pendekatan ini, masyarakat bukan objek pembangunan. Mereka adalah pelaku utama yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan kapasitas untuk menentukan arah perubahan mereka sendiri.

Peran organisasi seperti JPIC bukanlah menjadi penyelamat atau pengambil keputusan atas nama masyarakat. Tugas kami adalah memfasilitasi proses agar komunitas mampu menemukan kekuatannya sendiri.

Ketika masyarakat mulai memimpin proses tersebut, perubahan yang terjadi menjadi lebih mendalam dan lebih berkelanjutan.

Karena itu, bagi kami, dampak terbesar APEX bukanlah jumlah pelatihan yang diikuti atau dokumen yang dihasilkan. Dampak terbesarnya adalah perubahan cara berpikir.

Kami melihat petani yang dulu merasa tidak memiliki pilihan kini mulai percaya pada kemampuannya sendiri. Kami melihat perempuan yang dulu hanya duduk di belakang kini mulai berbicara dan memimpin. Juga ada komunitas yang dulu menunggu program kini mulai menyusun agenda mereka sendiri.

Perubahan-perubahan kecil seperti itulah yang sesungguhnya menjadi fondasi bagi gerakan agroekologi dan kedaulatan pangan.

Ke depan, tantangan tentu masih besar. Krisis iklim semakin nyata. Tekanan terhadap masyarakat adat dan petani kecil belum berkurang. Sistem pangan global masih didominasi oleh kepentingan pasar dan industri besar. Namun pengalaman bersama APEX menunjukkan bahwa harapan tetap ada selama masyarakat memiliki ruang untuk belajar, berorganisasi, dan memimpin perubahan.

Bagi JPIC Kalimantan, APEX bukan sekadar sebuah platform pembelajaran. APEX adalah ruang solidaritas. Sebuah ruang yang mempertemukan berbagai pengalaman, memperkuat keyakinan, dan mengingatkan bahwa perjuangan membangun sistem pangan yang adil dan berkelanjutan tidak pernah dilakukan sendirian.

Dan mungkin, pada akhirnya, ukuran keberhasilan yang paling penting bukanlah berapa banyak proyek yang selesai, melainkan berapa banyak komunitas yang semakin percaya bahwa masa depan mereka berada di tangan mereka sendiri.